bebas ceritACerita bebas
kumpulan esai-esaiku

masa kecil

Aku dilahirkan di kota K di Jawa Tengah yang letaknya hanya setengah jam perjalanan dari Yogyakarta atau satu jam dari Solo. Namun masa kecil, dewasa hingga sekarang aku habiskan di kota G di Jawa Timur. Sebuah kota industri yang gegap gempita, kota yang panas oleh terik matahari pantai yang membuat kulit berkerut, sebuah kota dengan dialeknya yang tak bisa aku pahami hingga saat ini.

Masa kecilku seperti kebanyakan orang lain, terlalui dengan sangat ceria, indah, berkesan namun rasanya terlampau cepat pergi. Sekolah! Adalah tempat paling dahsyat dan mengesankan bagiku waktu itu dimana aku dan teman-temanku menimba ilmu dan bergelimang kegembiraan, kemanjaan dan kenakalan seorang bocah. Watak sekolah kami saat itu sangat … sangat tercermin pada diri kami para muridnya hingga saat ini. Dan kami bangga karenanya.

Setamat SMA, aku diterima di sebuah universitas negeri di kota J di Jawa Timur juga. Aku memulainya dengan sangat ceria dan mantap karena jurusan yang aku pilih di UMPTN (nama test masuknya saat itu) benar-benar aku kehendaki dan perjuangkan sejak awal. Jurusan Hubungan Internasional. Keren ‘kan? Menjalani kuliah, keilmuan, pengalaman dan kebersamaan di HI adalah sebuah kebanggaan karena pikiranku saat itu cuma satu yaitu aku harus jadi DIPLOMAT atau paling tidak menjadi staff ahli di Deplu. Dengan begitu aku akan bisa meraih impian masa kecil untuk melanglang buana ke luar negeri. Mengunjungi negara dan bangsa asing yang selama ini aku kenal dari tulisan-tulisan di buku dan berita-berita di TV. Lima tahun menjalani kuliah aku sudahi dengan kemenangan gilang gemilang karena aku telah menyelesaikan pendidikan formalku tepat waktu dan menyelesaikan pendidikan pematangan kedewasaanku dengan tak ternoda. Aku langsung lari ke Jakarta dengan bekal lima ratus ribu rupiah dan sedikit pengalaman dan tentu saja sedikit peruntungan karena Jakarta sangatlah asing bagiku. Tak ada sekalipun sentuhan fisik sebelumnya. Berhasilkah aku jadi diplomat atau staff Deplu.? Jawabannya TIDAK! Begitu datang, Jakarta langsung membentakku dengan sangat keras tepat ditelinga dan hatiku. Namun impianku masih lebih keras lagi yang akhirnya membuatku bertahan di sana hampir satu tahun. Setelah itu aku balik ke kota G. Kota tempatku dibesarkan.

Pengalaman keras selama satu tahun di Jakarta nampaknya juga sangat berguna dalam keseharianku mencari pekerjaan. Setalah melewati masa-masa sulit selama tiga bulan mencari pekerjaan, aku akhirnya mendapatkannya di Sidoarjo. Di sebuah Taiwanese multi-national factory – sebuah pabrik sepatu ekspor yang komoditi buatannya di ekspor tanpa label. Barangakli sang pembeli lah yang akan menempelkan label-label terkenal atas sepatu-sepatu itu dan menjualnya kembali ke Indonesia dengan harga yang sangat tinggi, berlipat-lipat dari harga pembuatannya di sini.

Hilir mudik ganti ganti pekerjaan akhirnya (hingga kini) aku menambatkan masa depan di sebuah European Owned Manufacturer di kotaku sendiri. Sebuah pabrik besar dengan tenaga lokal hampir seribu orang lebih yang menghasilkan produk bermutu tinggi untuk konsumsi para “high end” di Eropa dan Amerika Serikat. Karyawan lokal yang dipadu dengan disiplin, fasilitas dan manajemen Eropa di pabrik ini menghasilkan kekuatan yang dahsyat tidak hanya dari sisi mutu, ketepatan waktu maupun layanan purna-jual namun lebih dari itu, perpaduan ini telah terbukti ampuh dan sangat solid dalam mengarungi badai krisis ekonomi sejak tahun 2001 hingga sekarang. Aku menjadi saksi bagaimana kekuatan kami ini telah membuat pabrik kami tetap berdiri tegak ditengah badai krisis sementara pabrik-pabrik yang lain sudah collaps dan bahkan tinggal nama saja.

Saat menulis ini, nuansa di pabrik lebih tenang dan religius selain karena hempasan krisis masih belum juga berakhir, juga karena kita sedang menikmati syahdunya bulan Romadhon, bulan puasa yang memaksa kita untuk menghemat energi fisik dan menaikkan kekuatan energi religi dalam diri kita. Seperti kata temanku, di bulan puasa ini energi fisik kita dan pbrik kita akan di-shutdown sebesar 75% sementara energi religi kita akan dipacu sebesar 75% juga. Lagi pula kerja mesin-mesin pabrik kami tidak akan pernah maksimal untuk tahun ini karena jumlah order yang masuk sangat turun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya karena main market kami di benua Eropa dan Amerika Serikat sedang lesu. Mereka nampaknya akan sangat hati-hati dalam menggunakan uang mereka untuk tidak lagi mengkonsumsi produk-produk non-primer seperti yang kami hasilkan. Bila mereka sedang kurang darah maka kami disinipun menjadi kurang darah. Lesu tak bertenaga.

Kebijaksanaan Pemerintah Daerah dan PLN untuk mengatur pemadaman bergilir pun mulai terasa dampaknya karena kami memiliki dua hari libur gratis tiap bulan. Libur gratis yang bisa kami perguanakan untuk mendekatkan diri pada keluarga.

Cerita ini tak akan tuntas walau aku tulis berlipat-lipat karena pengalaman hidup manusia tak pernah mengenal batas. Bila disudahi sampai di sini pun, anda pasti akan berharap kelanjutan cerita ini karena aku yakin ada sebagian kecil dari cerita ini yang mirip dengan kisah hidup anda. Semoga!

Salam

myflag_team

Belum Ada Tanggapan to “masa kecil”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: