bebas ceritACerita bebas
kumpulan esai-esaiku

Ketergesaan

KETERGESAAN
bercermin dari para tukang ojek Sunan Giri-Gresik

Suatu siang di jalanan sempit dan berdebu menuju kompleks makam Sunan Giri, segerombolan pengendara motor berompi hijau berlomba memacu motor mereka. Hempasan kerikil dan pekatnya debu kering mengiringi laju motor yang membawa dua hingga tiga orang sekaligus. Kecepatan dan kelincahan mereka meliuk-liuk dan mengatur ritme gas dan rem mungkin hanya bisa ditandingi oleh para riders dalam international motocross events. Ya, mereka adalah para tukang ojek yang menyediakan jasa “fast delivery” kepada para peziarah yang baru saja menjejakkan kaki di terminal bus kompleks wisata Sunan Giri.


(foto diambil dari situs http://www.gresik.eastjava.com)

Kecepatan laju motor mereka seakan merupakan cerminan ketergesaan manusia mencari dan mengumpulkan jati diri selama hidup. Pencarian yang tidak akan pernah berakhir. Perjuangan manusia untuk menunjukan eksistensi dan entitasnya pada lingkup dimana mereka menitipkan oksigen kehidupan. Pengakuan bahwa kita / kami adalah ada merupakan suatu pencapaian mutlak tertinggi yang sangat dahsyat harganya. Diperlukan ribuan nyali, ribuan kesempatan, ribuan rencana dan ribuan peruntungan untuk sekedar mendekat ke arah pengakuan eksistensi dan entitas itu. Ketergesaan itu justru juga membuktikan bahwa ada sebuah persaingan yang sangat keras untuk mencapainya. Seperti halnya para tukang ojek di komplek makam Sunan Giri, persaingan bagi mereka adalah dua sisi koin yang berlainan. Persaingan pada satu sisi adalah singgungan keras antar manusia untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Singgungan ini memunculkan ego manusia yang mengalahkan pemikiran-pemikiran rasional. Bila suatu tujuan telah ditetapkan maka harga yang tertera di label komputer otak sama sekali tak berpengaruh, kabur, resist, bahkan hilang. Ketergesaan para tukang ojek mewakili sebuah keniscayaan bahwa harus ada pemenang dalam duel persaingan antar manusia. Jalanan berkelok, naik turun, berdebu, panas dan beban berat dua penumpang adalah sebuah level ketangkasan seperti dalam sebuah permainan di portable game macam Play Station. Siapapun yang sukses pada level awal akan dihadapkan pada level berikutnya yang lebih berat. Namun kemenangan di level awal akan berbuah bonus untuk senjata di level berikutnya. Bedanya yang utama adalah kekalahan menaklukan level awal di sebuah game adalah kesementaraan karena kita masih bisa mengulangnya tiap kali kita inginkan. Kekalahan mutlak dalam persaingan eksisitensi nyata-nyata telah membuat manusia susah bangkit, terpuruk makin dalam ke dalam selokan pekat dan apabila alarm di otak sudah “off” maka hilanglah eksistensi itu. Tak ada lagi yang pernah mengenalnya.

Persaingan pada sisi koin yang satu lagi adalah justru memunculkan fakta baru bahwa telah tercipta satu perekat “super glue” terhadap para pencari eksistensi itu. Kesamaan adalah kata kunci yang sangat dahsyat untuk menjadikan persaingan lebih tertata dan terorganisir dalam koridor sopan santun hidup. Pikiran picik dalam isi kepala untuk menohok kawan seiring atau menggunting dalam lipatan telah di”brain-washed” habis-habisan agar tidak muncul meski pemicunya tak pernah hilang. Melawan ego diri sendiri adalah satu satunya jalan untuk memenangkan perebutan eksistensi ini. Seperti halnya dalam sepak bola, keragaman manusia haruslah di tata dengan manajemen bola modern, dimana setiap posisi pemain akan sangat mempengaruhi penampilan di lapangan. Tidak ada striker bintang yang harus diistimewakan karena tak ada artinya bila dia tidak didukung oleh pengumpan hebat dengan bola-bola crossing yang matang,

Para pengojek Sunan Giri telah mengajari pemikiran kita tentang ketergesaan dan persaingan dalam meraih keniscayaan diri. Sebuah pilihan antara singgungan dan rangkulan yang memiliki harga jual masing-masing. Sebuah koin yang telah dilemparkan. Tinggal kita putuskan hari ini, sisi mana yang kita harapkan.

Salam!
myflag

Satu Tanggapan to “Ketergesaan”

  1. good
    lets start


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: