bebas ceritACerita bebas
kumpulan esai-esaiku

rainbow

Sebuah pelangi terbentuk di kaki langit sebelah timur setelah hujan mengguyur. Enam warnanya indah membentuk gugusan selendang panjang tak berujung. Kemanapun kita mencari tak akan pernah bertemu dengan ujungnya.

(foto diambil dari http://www.arrowphotos.com)

Warna-warna pelangi mengingatkan kita pada warna-warna perahu politik yang pernah ada. Setiap tokoh maupun simpatisan gurem berusaha mengidentifikasikan diri mereka pada warna-warna tertentu yang mereka yakini bisa merubah hidup mereka pada lima tahun mendatang. Setiap orang selalu berusaha mendatangi gegap gempita konvensi warna mereka. Hiruk pikuk yang terkadang tak pernah mereka sadari apa artinya. Sebungkus nasi dan segelas air mineral atau selembar dua puluh ribuan nyatanya mampu menyeret mereka meninggalkan rutinitas mereka. Warna bukan faktor utama ternyata. Karena banyak orang memiliki kaos oblong lebih dari satu warna. Pilihan mereka bukan pada warnanya tapi imbal baliknya.

Pelangi memang indah dilihat dan menarik disaksikan.
Warna-warnanya penuh fatamorgana karena tak nyata. Namun entah mengapa orang masih saja bisa mengagungkan warna-warna. Warna-warna akan semakin cemerlang bila hari menjelang siang saat dimana orang pada posisi puncak kefatamorganaan. Tak bisa memandang jernih, tak dapat merasakan fakta. Mereka hanya menjadi bagian dari sebuah kepalsuan, sebuah persiapan besar penataran manusia-manusia yang penuh tipu muslihat. Lihatlah orang di atas sana! Yang mulutnya lantang menyebut kebenaran atas warna-warna. Ditangannya ada segenggam pasir yang kelak disebarkan kepada kalian agar tetap buta dan meraba-raba. Maka jadilah warna-warna sebagai mesias penuntun dalam kegelapan. Padahal warna-warna sebenarnya tidak mempedulikan kita manusia. Warna hanya peduli pada warna. Ingin menjadikan warna A lebih dominan di antara sekian puluh warna lain. Warna hanya rakus pada kekuasaan dan harta.

Pelangi suatu saat akan pudar.
Warna-warnanya akan pupus, hilang ditelan angin dan pergantian cuaca. Kemana perginya warna-warna itu? Dia ternyata tidak kemana-mana. Menyembunyikan wujudnya karena ingin menikmati kemenangan dan keserakahan. Menyembunyikan dirinya karena berharap bisa mengelak dari jejak-jejak bekas janjinya pada konvensi para warna. Menjauhkan diri agar tidak dimintai pertanggung-jawaban karena segala tetek bengek keriuhan lima tahun lalu adalah sekedar polesan palsu yang kini telah luntur. Warna seakan tenggelam dalam berita-berita palsu pengalih-perhatian. Kalian manusia masih juga tidak menyadari kebusukan ini dan mencari-cari sisa-sisa kejayaan masa lalu. Tidak perlu dicari karena waktu lima tahun hampir usai dan para warna dengan perut gendut yang telah lapar akan kembali keluar sarang. Telah tiba lagi waktu bagi para warna untuk menipu ! Pelangi selalu ingkar janji!

Salam!

myflag

Belum Ada Tanggapan to “rainbow”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: