bebas ceritACerita bebas
kumpulan esai-esaiku

Resensi Buku

Meresensi buku yang ditulis oleh penulis kelahiran dan tinggal di kota yang sama dengan saya merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Apalagi buku yang saya resensi ini dengan cuma-cuma dan bangga hati di berikan kepada saya. Penulis, Moh. Sofhan kelahiran Gresik, 23 Nopember 1975 adalah alumni Pesantren Maskumambang yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) yang sarat dengan pengalaman dan kekuatan pemikiran dan telah menerbitkan beberapa karya berkualitas. Arek Gresik yang Islami dengan pemikiran yang modern seperti inilah yang kita butuhkan untuk memberdayakan Islam menghadapi tantangan zaman post-modern dewasa ini. Semoga resensi ini menggugah kita untuk lebih mendalami pemikirannya.


Jalan Ketiga Pemikiran Islam

Gelombang pemikiran keislaman kontemporer yang membahana dengan kencang di dunia Islam membuktikan bahwa Islam sebagai sebuah diskursus akan mengalami pembaruan yang tak terbendung. Pemikiran keislaman akan selalu mengikuti gerak sejarah. Tuhan memiliki kehendak yang fatalistik namun sejarah merupakan unsur determinan dalam tataran empirik.

Tradisionalisme Islam senantiasa berusaha memaknai Islam dengan mengacu pada tradisi mulai dari zaman nabi hingga sekarang ini. Artinya, pelestarian tradisi yang diletakkan oleh nabi, sahabat sampai dengan para ulama harus menjadi pedoman hukum bagi kelangsungan kehidupan umat Islam. Sampai kadangkala tradisi itu sendiri menjadi lebih penting daripada melakukan penafsiran ulang atas Al-Qur’an.

Selain terpaku pada warisan tradisi yang berorientasi pada masa lalu, mereka juga enggan bahkan alergi terhadap progress of idea terutama bila itu dicurigai berasal dari Barat. Fanatisme berlebihan juga masih memenuhi benak mereka. Hal ini semata-mata untuk mempertahankan hegemoninya dalam menafsirkan agama (Islam). Sehingga mau tidak mau harus diakui bahwa bukan agama Islam yang menghalangi kemajuan sains namun justru para ulamalah yang melemahkan semangat masyarakat muslim untuk mempelajari sains.

Sebagai reaksi atas tradisionalisme, Islam liberal menawarkan suatu pendekatan yang tidak rigid, skriptural dalam menawarkan ide-ide Islam progresif. Islam liberal disini merujuk pada kaum muslimin yang menghargai pandangan Barat. Mereka mulai mencari jati diri baru yang setidak-tidaknya dalam beberapa hal lebih selaras dengan nilai-nilai Barat.

Kemunculan intelektual muda Muslim di Indonesia akhir-akhir ini , baik dari kalangan NU yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL) dan kalangan Muhammadiyah dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), menumbuhkan harapan berkembangnya kembali tradisi pemikiran umat Islam yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman. Keberadaan mereka juga dibutuhkan dapat membantu memepercepat perubahan cara berpikir umat Islam yang selama ini sangat lamban. Selama ini umat Islam terlihat mengalami kemandekan karena telah memudarnya rasionalisme dalam pemikiran Islam.

Munculnya tradisionalisme Islam dan liberalisme adalah merupakan hasil interaksi antara pergumulan Islam ke dalam dan kontak dengan dunia luar tidak bisa hanya dijelaskan dari perspekstif kajian modern liberal dan juga tidak bisa dijawab dengan memberikan orientasi pra-modern tradisional.

Sehingga perlu dilakukan sinergi kembali antara tradisi yang kaya dengan nilai-nilai kearifan dengan modernitas sebagai upaya melampaui pemahaman tradisi untuk mendapatkan sebuah pemahaman modern dan pandangan baru tentang tradisi.
Modernitas adalah sebuah keharusan bagi seorang intelektual supaya mampu menjelaskan segenap fenomena kebudayaan serta tempat dimana modernitas muncul, sehingga modernitas yang seperti ini menjadi sebuah pesan dan dorongan perubahan dalam rangka menghidupkan kembali berbagai mentalitas, norma dan pemikiran Islam beserta seluruh apresiasinya. Dengan demikian kajian Islam bisa relevan dengan perkembangan situasi, kondisi dan kenteks era modern-kontemporer.

Satu Tanggapan to “Resensi Buku”

  1. membicarakan islam liberal dan tradisional memang menarik, perdebatan bisa panjang dan bahkan sulit menemukan muara yang sama.

    Di Indonesia sendiri, sepertinya Islam tradisonal memang berjumlah lebih banyak, dan ulama tradisional masih menjadi center of action dalam setiap tindakan masyarakat, baik itu keseharian maupun berbangsa.
    tapi sepertinya kecenderungan itu sudah mulai berubah, kalo boleh memilih saya masih berada di tengah-tengah, agnostik memang, hehehehe….

    *salut dan kebanggan tersendiri jika sebuah karya tulis diberikan langsung oleh penulisnya*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: